Perjalanan aku lanjutkan. Aku gak tahu musti kemana. Aku jalan aja. Tapi kemudian aku punya tujuan yaitu ke Amsterdam Central Station. Kan kalo dari situ kita bisa kemana-mana. Ok kemudian, aku nyari arah ke Amsterdam Central Station. Sebenarnya banyak bis yang menuju ke sana. Cuman, kata mas wiby, temenku yang aku tinggali apartemennya, bilang Amsterdam itu gak luas-luas amat. So aku memutuskan buat jalan aja. Berhubung gak bawa peta, cara termudah menuju Amsterdam central station adalah ngikutin jalur bis-nya. Sebenernya ini cara terbodoh yang mungkin hanya dilakukan oleh orang-orang putus asa aja. Tapi aku emang pengen jalan. Selain itu juga karena gak punya tiket dan aku pengen motret-motret, sesuai harapanku sebelum menginjakkan kaki di bumi kompeni ini.
Aku telusuri aja sepanjang jalan-jalan di kota Amsterdam berhati nyaman ini. Jarang aku liat bangunan baru. Aku sempet lihat bangunan-bangunan baru ber-arsitektur dekonstruksi didaerah penggiran Amsterdam. Perlu diketahui, meskipun Amsterdam adalah ibukota, tetapi tempat pemerintahannya adalah Den Haag.

Pemerintah Amsterdam punya kebijakan khusus yang melindungi segala yang berbau monumen, bukan cuma bangunan tua tapi termasuk wilayah Amsterdam, ya, pemandangan, kanal, dan struktur kota itu sendiri. Duh, seandainya pemerintah kita juga punya pemikiran seperti itu………..Gak mikirn korupsi mulu……..
Semua bangunan bisa berfungsi apa saja asalkan diperlakukan sesuai dengan peraturan yang dibuat, baik oleh pemerintah pusat maupun lokal. Maka jangan heran jika kita melihat bangunan tua di sana yang berfungsi tak hanya sebagai museum tapi juga sebagai hotel, pertokoan, apartemen, sekolah, perkantoran, restoran, atau tempat hiburan seperti bar, kafe, bahkan tempat prostistusi.
Didalam perjalanan ini, aku secara tidak sengaja melewati jalan dimana sepanjang jalan itu tempat “mangkal” butik-butik terkenal macam, Chanel, Luis Vuitton, Dolce & Gabbana, Gucci, Mont Blanc, Ralph Lauren, Hermes, Tommy Hilfiger, Azzuro, Hugo, Cartier, Iceberg dan laen-laen deh. Buat yang punya duit lebih butik-butik disepanjang jalan PC Hooftstraat, layak disambangi. Jangan kwatir sama kwalitasnya, pasti ASLI. Jangan harap menemukan Luis Vuitton made in China disini. Yah, lumayan aku bisa kesini, meskipun gak beli, minimal gembel kayak aku ini pernah mengunjungi butik-butik terkenal. Belum tentu juga orang-orang Indonesia yang punya produk-produk terkenal ini, pernah kesini. Meskipun aku termasuk orang yang TIDAK “merk minded”, tapi kalo liat-liat jas, hem, yang dipajang, ngiler juga……hehehe, Ya Tuhan, jangan Kau beri aku kesempatan mempunyai benda-benda kayak gini, bisa “TUMAN” nanti……..




Masih di jalan ini, diujung PC Hooftstraat ini ada Restoran Indonesia loh…….(bangga juga, ada tulisan Indonesia, di sekitar tulisan merk-merk yang mendunia itu….) Restoran itu namanya “ INDONESISCH RESTAURANT SAMA SEBO” Ditengah-tengah tulisan itu ada lambangnya. Kayaknya sih lambang Garuda. Tapi bukan Garuda Pancasila loh, bisa tak lempar bom Molotov, kalo sampe masang Garuda Pancasila. Lambangnya restaurant ini bikin aku bingung. Kepalanya sih kayak Garuda. Kalo pernah liat patung Garuda Whisnu Kencana di Uluwatu, Bali, ya kayak gitu……Tapi kalo diamati badannya, lebih mirip AYAM dari pada GARUDA,…..(jauh amat!!!).


Kembali ke CERITA PERJALANAN