1.12.08

(12) Hari Pertama di LUND - Swedia


Senin, tgl 22 September 2008 adalah hari pertama aktivitasku sebagai peserta International Training di program Conservation and Management of Historic Building. Pagi-pagi jam 7 waktu Swedia ( lebih lambat 5 jam dari WIB), aku siap-siap untuk keluar kamar menuju ke restaurant–nya hotel. Aku liat beberapa orang yang aku yakin bukan orang Swedia sedang bersliweran mengambil makanan. Aku ambil piring dan nyoba ngambil sarapan juga. Mayoritas makanan disitu gak bisa aku makan. Kalo gak Ham.. ya pork, ada juga beacon. Ada pula nama makanan yaitu skinka……..(belakangan aku tahu ini juga sejenis babi). Gila babi semua…..!!! Satu lagi yang paling dominan adalah ikan. Sayangnya sejak kecil aku gak makan ikan. Jadi satu-satunya yang bisa aku makan adalah turkey ato ayam kalkun. Believe or not, gak ada daging sapi disini. Sialan juga nih hotel,……hihihi. So, yang aku makan (dan itu tiap hari selama sebulan), adalah turkey 3 lembar, telor dadar rasa aneh, jamur, paprika, tomat. Tiap hari selalu gitu. Kadang kalo bosen makan sereal. Yang enak adalah kue-kue keringnya. Enak banget. Manisnya pas….. Kalo minuman, standartlah,…….ada kopi, teh, aneka jus dan tentunya air putih. Selama makan, aku disamperin orang afrika. Kita kenalan, ternyata dia ikut programku juga. Namanya Irene Keino dari Kenya sama Isabella Mtani dari Tanzania.


Abis makan aku menuju halte bis. Disitu udah ada beberapa peserta yang juga ikut program yang sama dengan aku, lagi nunggu bis yang sama, bis nomer 177. Jadi kita berangkat sama-sama. Kemaren ketika dikasih booklet dari Lund University oleh resepsionis hotel, ternyata disitu ada tiket bis yang bentuknya kayak kartu kredit dari plastik gitu. Kartu itu yang akan aku gunakan sebagai tiket bis selama di Lund, kemana aja aku suka, selama satu bulan, tapi cuman di Zone 1 aja. Kalo pengen ke zone yang lebih luar, misalnya zone 2 atau 3 gitu, musti bayar lagi. Tak lama kemudian bis dating. Karena gak tahu cara make kartu bis-nya ( kalo di Belanda cukup ditunjukin ke sopirnya), aku milih ngantri masuk bis paling belakang. Supaya aku bisa ngeliat orang-orang, gimana make kartunya. Ya… biar gak keliatan udik,…hihihi. Ternyata kartu cuman di masukin kotak kecil kayak tiket box, kemudian dilayar dikotak itu muncul tanggal bulan dan tahun kapan expired-nya kartu tersebut. Waktu kartuku aku masukin, muncul tanggal 22 Oktober 2008. Berarti masih sebulan lagi expirednya. Setelah keluar display-nya, kartu keluar lagi. Karena aku paling belakang, pintu bis langsung nutup otomatis, dan bis berangkat. Yang agak unik (ato aku emang katrok ya…) bis tadi ketika berhenti ternyata miring ke kanan. Nah, ketika akan berangkat, system hidrolis-nya kembali bekerja membuat posisi bis kembali normal. Dan setiap kali berhenti, selalu begitu. Sistem hidrolisnya memiringkan bis ke kanan, sehingga penumpang yang akan masuk bis gak perlu mengangkat kaki tinggi-tinggi. Oh ya, di Swedia dan mungkin semua negara2 Eropa menganut sisitem setir kiri. Jadi pintu ada di sebelah kanan.
Nyampe kampus Lund University, rada bingung juga, karena tidak ada petunjuk yang jelas. Beruntung ketemu sama salah satu dosen disana, dan dia menyapa kami. Setelah itu kami diantarkan ke ruang tempat yang telah ditentukan. Setelah ngumpul semua, aku coba itung peserta yang ikut. Ternyata Cuma 24. Padahal didaftarnya ada 26 orang. Berarti ada 2 orang yang gak ikut. Wah sayang banget, kalo gak ikut.

Ada 2 orang yang mengurus kami saat itu. Namanya Lena Anderson sama Kiki Lazlo. Mereka membagikan surat kontrak yang harus aku tanda tangani dan mug cantik bertuliskan “Lund University”. Oh ya, mereka juga ngasih duit loh,……1000 SEK (Swedish Kronor) dalam bentuk tunai dan 4300 SEK dalam bentuk cek. Jadi total jendral mereka ngasih 5300 SEK ( sekitar 8 juta rupiah lah). Wah….lumayan buat uang jajan,……hihihi

Sesi selanjutnya adalah sesi pemotretan. Semua peserta dipotret separo badan, buat administrasi katanya. Busyet,…..motretnya diluar ruangan. Mana duingin pula……Sialnya lagi, pas motret wajahku, mereka harus ngulang 3 x. Katanya hasilnya selalu jelek. Sialan lu,…..emang udah dari sono kayak gini, penghinaan tingkat tinggi nih…. Setelah kelar semua kita masuk kelas. Mereka menyebutnya International Class. Tapi bentuknya jauh dari kesan International. Ukurannya cuma 5 x 5 meter. Ada tempat membuat kopi, trus ada zink buat nyuci gelas, ada proyektor yang selalu menggantung di plafon. Seluruh dinding bercat kuning. Kursinya standart kayak kursi kampus.

Dikelas ini, kami saling berkenalan dan aku emang satu-satunya wakil Indonesia. Padahal yang lain perwakilannya kadang 2 orang tiap negara. Bahkan dari Pilipina ada 3 orang. Kemudian kami saling berkenalan. Training ini dikuti oleh 20 negara berkembang dari empat benua, Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Latin. 20 negara itu antara lain adalah Bangladesh, Bolivia, Brazil, Chile, Columbia, Ecuador, Ethiopia, India, Indonesia, Kenya, Kosovo, Nepal, Peru, Philippines, Serbia, Tanzania, Uruguay dan Vietnam. Dua yang tidak hadir dari Montenegro sama dari Bank Gaza. Bank Gaza,…….rasanya aku baru denger. Ini nama Negara ato nama Bank ya…..??? Umumnya mereka adalah arsitek kayak aku. Beberapa adalah dosen, praktisi LSM, staf badan konservasi dinegaranya, Insinyur sipil serta, staf museum dinegaranya.

Hari pertama ini diisi dengan pengenalan program training, pengenalan kampus, serta tata cara menggunakan fasilitas kampus seperti studio computer, perpustakaan dan lain-lain. Belum banyak kegiatan yang menyita pikiran dan tenaga, karena mungkin panitya tahu sebagian dari kita masih harus beradaptasi dengan efek jetlag, sehingga kadang penyakit kantuk tiba-tiba menyerang disiang hari.

Acara selanjutnya adalah sambutan dari Kerstin Barup, sebagai wakil dari Lund University. Intinya sih, ucapan selamat datang dari pihak Lund University. Kemudian jam makan siang tiba. Kita dikasih tahu letaknya kantin. Ada dua kantin yang deket dengan kampus ini. Kita Tanya, yang murah yang mana? Hihihi, sama aja ternyata…. Kemudian ditunjukin kantin yang gak gitu jauh. Makanan paling murah sekitar 45 SEK ( sekitar rp. 65.000,-). Swedia bukan termasuk Negara mahal untuk living cost. Tetapi tetap lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia. Untuk itu, gak usah membandingkan harga-harga barang yang kita beli dengan rupiah. Pasti harganya tetep jauh lebih mahal. Ntar malah bikin sakit hati, hihihi.

Selese makan makanan yang gak jelas, kita masuk kelas lagi. Tapi gak terlalu menarik untuk diceritakan. Akhirnya kita pulang jam 4 sore. Karena cuaca masih cerah, Aku pengen keliling Lund, yang kata temen-temenku yang sudah keliling, Lund tidak terlalu besar. Bahkan dapat dikatakan terlalu kecil untuk ukuran sebuah kota. Aku pulang hotel sebentar, naruh tas yang semakin berat karena sama Lund Uni, dikasih buku2 berisi materi-materi yang harus kita pelajari. Pulang ke hotel dengan bis yang sama tapi arah berlawanan, aku nyampe hotel Cuma 5 menit dari kampus. Ganti sepatu sport, ambil jaket yang lebih tebel trus berangkat berbekal peta. Ok mari berpetualang di kota Lund yang kueeecil……. (baca tulisan selanjutnya).

Home I Portfolio I Jasa I Konsultasi I Arsitektur I Interior I Lansekap I Tips I Perabot I Perkakas I Jalan-Jalan I Hobi I Kontak I Copyrights @2009-2013 Rudy Dewanto Template by x-template